Komunikasi dan Perubahan Masyarakat

Posted: Juli 8, 2011 in Ilmu Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin communicatio, bersumber dari kata communis yang mempunyai makna sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi akan berlangsung dengan lancar apabila terdapat kesamaan pengertian antara bentuk komunikasi yang digunakan dan makna yang dimaksud. Harold D. Laswell memformulasikan definisi komunikasi dalam bentuk pertanyaan : ”who says what in which channel to whom and with what effect?”. Komunikasi ini terjadi bila ada pertukaran pesan atau informasi antara pengirim dan penerima pesan sehingga diharapkan penerima pesan ini mengerti isi pesan yang disampaikan kepadanya dan memberikan respon, maka proses komunikasi dapat dikatakan berlangsung[1]. Pesan adalah materi yang dimiliki oleh komunikator untuk dibagikan kepada orang lain. Dalam bentuknya pesan merupakan sebuah gagasan yang telah diterjemahkan ke dalam simbol-simbol yang dipergunakan untuk menyatakan maksud tertentu. Baik komunikator sebagai pembawa pesan maupun komunikan sebagai penerima pesan bersama-sama secara aktif dalam kegiatan pertukaran pesan sehingga terjadi komunikasi yang efektif.

  1. Komunikasi yang Membawa Perubahan Sosial

Komunikasi dalam masyarakat yang melibatkan pertukaran pesan dapat membawa perubahan pada sasarannya, yaitu anggota masyarakat itu sendiri.  Ada perubahan yang berpengaruh secara luas dan mendalam, ada pula perubahan yang pengaruhnya hanya pada batas-batas tertentu. Ada perubahan yang berjalan cepat, ada pula yang berjalan lambat. Ada perubahan yang direncanakan, ada pula perubahan yang tidak direncanakan.

Pesan yang disampaikan oleh komunikator pada dasarnya untuk menggerakkan dan mengubah sikap khalayak sasaran untuk bertindak sesuai yang diharapkan oleh komunikator. Secara umum, perubahan sikap dari masyarakat / khalayak yang menjadi sasaran komunikasi mencakup aspek :

  1. Kognitif yaitu perubahan pengetahuan dari khalayak sasaran.
  2. Afektif yaitu perubahan sikap dari khalayak tentang perubahan pada apa yang dirasakan, sikap setuju atau tidak setuju, berkenan atau tidak berkenan, disenangi atau dibenci oleh khalayak sasaran. Aspek ini berhubungan dengan emosi, sikap, atau nilai.
  3. Konatif yaitu perubahan perilaku yang nyata yang ditunjukkan oleh khalayak setelah menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator[2].

 

Di dalam sistem masyarakat banyak terjadi perubahan baik pada level individu maupun pada level sistem sosial. Pada level individu misalnya adanya adopsi ide untuk mempercantik rumah menjelang hari raya oleh seorang anggota masyarakat. Sedangkan pada level sistem sosial seperti adanya program pembangunan yang diikuti oleh semua anggota masyarakat dan telah merubah sistem sosial yang semula. Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap, yaitu :

  1. Invensi adalah proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.
  2. Difusi adalah proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial.
  3. Konsekuensi adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Inovasi adalah gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang[3].

 

Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat. Karena itu dapat juga dikatakan bahwa perubahan sosial merupakan akibat proses komunikasi. Contohnya adalah adanya program penyuluhan tentang pentingnya imunisasi bagi balita di pedesaan. Karena adanya penyuluhan tersebut, para ibu yang mempunyai balita menjadi tahu akan pentingnya program imunisasi. Kemudian para ibu mendukung dan setuju dengan program tersebut. Konsekuensinya, para ibu mengikuti program tersebut dengan mengimunisasikan anaknya.

 

  1. Komunikasi yang Tidak Membawa Perubahan Sosial

Komunikasi tidak selalu membawa perubahan sosial pada masyarakat. Menurut Everett M. Rogers (1985:125) seperti yang dikutip Siti Amanah dalam buku Komunikasi, Perubahan sosial dan Dehumanisasi, tidak diragukan lagi bahwa dalam sistem sosial manapun terdapat banyak sekali komunikasi yang dimaksudkan untuk memperkecil atau menghalangi perubahan yang cenderung akan terjadi bila tidak ada komunikasi itu.

Masalah bagaimana suatu masyarakat bisa tetap utuh dan stabil tidak lebih dan tidak kurang mendasarnya dengan masalah bagaimana masyarakat itu dapat mengubah dirinya atau diubah oleh kekuatan luar. Pewarisan kebudayaan banyak yang tergantung pada komunikasi. Pertukaran pesan yang terjadi berfungsi untuk memperkuat pandangan atau nilai-nilai yang telah dianut sebelumnya, bukan untuk mengubahnya. Kebanyakan komunikasi yang bersifat ritual pada dasarnya dimaksudkan untuk memelihara kestabilan itu. Sekiranya tidak ada komunikasi tanpa perubahan, maka tidak mungkin menggunakan komunikasi untuk membendung perubahan, padahal kegunaan semacam itu sangat penting demi kelangsungan hidup organisasi-organisasi dan hubungan-hubungan sosial.

Bagi kalangan masyarakat tradisional, perubahan ke arah modernisasi pada umumnya tidak begitu mereka sukai. Norma-norma yang dipegang masyarakat terutama yang menyangkut kepercayaan kepada agama, seperti anggapan tabu membunuh makhluk hidup, merupakan hambatan perubahan sosial. Sangatlah mustahil menentang norma-norma masyarakat yang memang sudah berlaku turun temurun, persoalannya adalah bagaimana menghadapi norma tersebut secara damai.

 

  1. Civil Society dan Tingkat Kesadaran Masyarakat Yang Akan Mempercepat Perubahan Sosial

Perubahan sosial muncul karena keinginan manusia untuk menciptakan masyarakat baru yang dikenal dengan civil society. Civil society yaitu suatu masyarakat yang ditunjang oleh organisasi-organisasi yang otonom dari pemerintah dan mampu untuk secara otonom pula memberikan pandangan alternatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh negara. Civil society bertujuan membuka kesempatan pada masyarakat melalui organisasi-organisasi mereka yang independent untuk memberikan pikiran alternatif terhadap perubahan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang terjadi di negara yang akan mempengaruhi masa depan hidup mereka.

Dari pengamatan lapangan, masih banyak masyarakat yang seolah-olah tidak peduli akan perbaikan/perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat[4]. Oleh karena itu, perlu dibahas mengenai tahap-tahap kesadaran kesadaran manusia sebeelum melakukan perubahan sosial menurut  Paulo Freire, yaitu :

  1. Kesadaran Magis

Pada tahap ini orang menerangkan berbagai peristiwa dan kekuatan yang membentuk hidup mereka menurut kerangka mitos, magis, atau kekuasaan-kekuasaan yang ada di luar pemahaman dan kekuasaan mereka. Mereka ini cenderung pasrah kepada nasib, pesimis, dan selalu pasif terhadap apa yang akan menimpa diri mereka.

  1. Kesadaran yang Naif

Seseorang yang naif tidak memiliki pemahaman yang sempurna. Orang-orang dalam taraf yang naif tidak lagi menerima secara pasif terhadap penderitaan orang-orang ada di bawah. Mereka menyesuaikan diri untuk meraih yang terbaik bagi diri mereka. Akan tetapi, mereka masih tetap menerima nilai-nilai, aturan yang ditetapkan atasannya.

  1. Kesadaran Kritis

Sementara orang mulai berkembang kesadaran kritisnya, mereka lebih cermat memandang sebab musabab kemiskinan dan masalah dehumanisasi yang lain. Mereka mencoba menjelaskan sesuatu lebi banyak melalui pengamatan da akal sehat daripada melalui mitos dan magis[5].

 


[1] Siti Amanah, Komunikasi, Perubahan Sosial dan Dehumanisasi, Pustaka Rumpun Ilalang, Surakarta, 2005, hlm 45

[2] Ibid, hlm 46

[3] Drs. Abdillah Hanafi, Memasyarakatkan Ide-ide Baru, Usaha Nasional, Surabaya, 1987, hlm 26

[4] Drs. H. Sutopo JK, Komunikasi, Perubahan Sosial dan Dehumanisasi, Pustaka Rumpun Ilalang, Surakarta, 2005, hlm 40

[5] Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s